Tradisi keagamaan yang berkembang di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan warisan kultural dan spiritual yang kaya akan makna. Di antara praktik ibadah yang banyak diamalkan adalah tawassul, tahlil, dan berbagai tradisi lainnya yang menjadi ciri khas NU. Bagi sebagian kalangan, praktik-praktik ini seringkali disalahpahami. Padahal, jika ditelusuri secara mendalam, ketiganya memiliki dasar yang kuat baik dari sisi teologis, historis, maupun sosial budaya. Artikel ini akan mengulas makna dan esensi dari tawassul, tahlil, serta tradisi keagamaan NU lainnya agar masyarakat dapat memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Tawassul: Memohon Melalui Perantara yang Mulia
Tawassul berasal dari kata wassala–yuwassilu–tawassulan yang berarti mendekatkan diri. Dalam konteks keagamaan, tawassul adalah praktik memohon kepada Allah SWT dengan menyebut perantara yang memiliki kedekatan atau kemuliaan di sisi-Nya, seperti para nabi, wali, atau orang-orang saleh.
Dalam tradisi NU, tawassul bukan dimaknai sebagai menyembah selain Allah, namun sebagai bentuk penghormatan kepada hamba-hamba Allah yang dekat kepada-Nya. Hal ini berlandaskan pada sejumlah dalil, di antaranya:
-
QS. Al-Ma’idah: 35: “…Carilah wasilah (jalan pendekatan) kepada-Nya…”
-
Kisah para sahabat yang bertawassul kepada Rasulullah SAW bahkan setelah wafatnya, seperti yang disebutkan dalam hadis-hadis shahih.
Tawassul juga menjadi sarana mempererat hubungan spiritual antara umat dengan para teladan dalam agama. Dalam pelaksanaannya, NU biasa memulai berbagai acara seperti istighasah, pengajian, atau tahlilan dengan doa tawassul sebagai pembuka.
Tahlil: Zikir dan Doa untuk Arwah
Tahlil merupakan amalan zikir dan doa yang dirangkai dalam sebuah majelis, biasanya dilakukan untuk mendoakan orang yang telah wafat. Kata tahlil sendiri merujuk pada bacaan “Laa ilaha illallah”, yang menjadi inti dari zikir tersebut. Namun dalam pelaksanaannya, tahlil biasanya disertai dengan bacaan ayat Al-Qur’an, sholawat, dan doa-doa khusus.
Bagi NU, tahlil bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua), ukhuwah islamiyah, serta penghormatan terhadap kematian. Dalam Islam, mendoakan orang yang telah wafat adalah perbuatan mulia, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim:
“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
Oleh karena itu, tahlil menjadi sarana kolektif umat untuk menghadiahkan doa kepada para leluhur sekaligus memperkuat ikatan sosial di antara sesama.
Tradisi Keagamaan NU: Harmoni antara Agama dan Budaya
NU dikenal dengan pendekatan keagamaannya yang moderat dan adaptif terhadap budaya lokal. Banyak praktik keagamaan NU yang lahir dari hasil akulturasi antara ajaran Islam dan budaya nusantara. Misalnya:
-
Maulid Nabi: Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan pembacaan syair-syair pujian dan sejarah hidup Nabi.
-
Yasinan dan Manaqiban: Pembacaan surat Yasin atau kisah hidup para wali yang menjadi sarana pendidikan akhlak dan spiritual.
-
Ziarah Kubur: Mengunjungi makam orang tua, guru, dan para wali dengan niat mengingat kematian serta mengambil pelajaran dari hidup mereka.
Tradisi-tradisi ini merupakan bentuk dakwah yang tidak konfrontatif. NU tidak menghapus budaya, melainkan menyaring dan memberikan nilai-nilai Islam di dalamnya. Inilah yang membedakan NU dengan kelompok Islam transnasional yang lebih puritan.
Landasan Keilmuan dan Ijtihad Ulama NU
Apa yang dilakukan NU bukan tanpa dasar. NU mengandalkan ijtihad para ulama dalam Lembaga Bahtsul Masail (LBM), yang membahas berbagai isu keagamaan kontemporer. Keputusan-keputusan NU didasarkan pada kitab-kitab klasik ulama Ahlussunnah wal Jamaah seperti:
-
Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari
-
I’anatut Thalibin oleh Syekh Sayyid Abu Bakar
-
Al-Adzkar oleh Imam Nawawi
Dengan basis keilmuan yang kuat ini, NU menjaga agar tradisi yang dilakukan tetap berada dalam koridor syariat Islam.
Penutup
Tawassul, tahlil, dan tradisi keagamaan NU bukan sekadar ritual kosong tanpa makna. Ia adalah manifestasi dari kecintaan umat Islam Indonesia terhadap ajaran Islam yang damai, menghormati leluhur, dan menyatu dengan nilai-nilai budaya. NU berhasil merawat Islam dengan wajah ramah, sejuk, dan penuh kasih sayang. Pemahaman terhadap tradisi-tradisi ini sangat penting agar umat tidak mudah terprovokasi oleh kelompok yang gemar menyalahkan perbedaan. Justru dari perbedaan inilah, kita bisa belajar untuk saling menghormati dan memperkaya wawasan keislaman kita.
Sumber:





0 Komentar