gpansorbanserkroya@gmail.com

Web Design

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

Logo Design

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

Web Development

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

White Labeling

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

VIEW ALL SERVICES 

Komentar

0

Discussion – 

0

Jejak Kiprah KHM Minhadjul Adzkiya, Ulama Kroya Pendiri NU Cilacap

Perjalanan Seorang Kiai Visioner dari Kroya

KHM Minhadjul Adzkiya, atau yang akrab disebut KH Adzkiya, merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di Cilacap. Ulama kharismatik asal Kroya ini bukan hanya pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda (Mifda) Semingkir, tetapi juga tercatat sebagai penggerak awal lahirnya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap sejak era 1930-an.

Dilahirkan pada 1 Maret 1903, KH Adzkiya wafat pada 18 Februari 1986. Semasa hidupnya, beliau dikenal sebagai sosok ulama berilmu tinggi, rendah hati, sekaligus pejuang yang gigih dalam mengembangkan NU dan pendidikan Islam di Cilacap.

Makam Sang Ulama di Jantung Kroya

Makam KH Adzkiya terletak di tepi Jalan Betet, Kroya, tak jauh dari kompleks Pesantren Mifda. Nisan bertuliskan “KH MM Adzkiya” dengan catatan lahir dan wafatnya masih terawat hingga kini. Makam keluarga besar Bani Adzkiya itu dilengkapi atap sederhana agar terlindung dari panas dan hujan, sekaligus menjadi tujuan ziarah bagi santri maupun masyarakat yang ingin mengenang jasa beliau.

Kontribusi KH Adzkiya dalam Muktamar NU

Catatan sejarah menunjukkan, KH Adzkiya aktif dalam perhelatan Muktamar NU sejak awal berdirinya organisasi ini di Cilacap. Pada Muktamar NU ke-VIII di Jakarta tahun 1933, namanya tercatat sebagai utusan Cabang NU Kroya. Dua tahun kemudian, pada Muktamar X di Surakarta, beliau hadir sebagai utusan PCNU Cilacap dengan laporan perkembangan yang cukup pesat:

  • Anggota sebanyak 900 orang
  • Terdiri dari 19 kring (ranting)
  • Mendirikan 7 madrasah dan 3 pondok pesantren
  • Mengelola 7 masjid dan 10 langgar

Dokumen tersebut menguatkan fakta bahwa NU sudah berdiri di Cilacap sejak awal 1930-an, dengan Kroya sebagai pusat awal gerakannya.

Pusat Kajian Ilmu dan Pertemuan Tokoh Nasional

Nama besar KH Adzkiya tidak hanya dikenal di Cilacap. Ulama nasional seperti KH Saifuddin Zuhri dan KH Bisri Syansuri (kakek KH Abdurrahman Wahid/Gus Dur) tercatat sering bersinggah di rumah beliau di Kroya.

KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya Berangkat dari Pesantren menyebut, KH Adzkiya kerap menjemputnya di Stasiun Kroya meski larut malam, lalu membawanya beristirahat di rumah. Sementara itu, Gus Dur menuturkan bahwa KH Bisri Syansuri kerap meminta pertimbangan KH Adzkiya dalam menyusun pandangan hukum Islam sebelum dibawa ke forum PBNU. Hal ini menegaskan kapasitas intelektual dan keilmuan KH Adzkiya yang diakui para tokoh NU nasional.

Penerus Perjuangan di Pesantren Miftahul Huda

Sepeninggal beliau, Pesantren Miftahul Huda diteruskan oleh para putra dan muridnya. Di antaranya KH Tarmidzi Affandi, KH Zainuddin, KH Hamam Adzkiya, hingga kini KH Su’ada Adzkiya yang juga menjabat sebagai Rais PCNU Cilacap. Untuk santri putri, ada Pesantren Al-Hidayah yang diasuh oleh Nyai Hj Mas’adah Machali.

Kini, sekitar 350 santri menempuh pendidikan di Pesantren Miftahul Huda dan Al-Hidayah. Sebagian besar mengikuti pendidikan formal SD hingga SMA/SMK, sementara sisanya fokus mendalami kajian agama melalui Halaqah Diniyah.

NU Cilacap: Dari Kroya untuk Indonesia

Sejarah panjang NU di Cilacap tak lepas dari jasa KH Adzkiya. Meski awalnya berkembang di tingkat lokal Kroya, gerakan ini kemudian meluas dan menjadi bagian penting dari perkembangan NU di Jawa Tengah. Keberadaan PCNU Cilacap yang aktif hingga kini adalah warisan langsung dari perjuangan beliau.

KH Su’ada Adzkiya, putra beliau, menuturkan pernah membaca catatan pendirian NU Cilacap sejak tahun 1931. Hal ini memperkuat asumsi bahwa peran KH Adzkiya dalam mendirikan NU Cilacap sangat signifikan. Bahkan hingga kini, warisan perjuangan itu masih diteruskan melalui gerakan sosial-keagamaan PCNU, termasuk melalui program Koin NU.

Warisan Keilmuan dan Keteladanan

Kehidupan KH Adzkiya adalah teladan bagi generasi penerus NU. Dedikasinya dalam membangun pesantren, menggerakkan organisasi, hingga menjadi rujukan ulama nasional, menunjukkan bahwa peran seorang kiai tidak berhenti pada lingkup lokal.

Dengan wafatnya KH Adzkiya pada 1986, Cilacap kehilangan salah satu ulama besarnya. Namun, pesantren, santri, dan PCNU Cilacap yang terus berkembang adalah bukti nyata bahwa perjuangan beliau tetap hidup.

Kesimpulan

KHM Minhadjul Adzkiya adalah tokoh penting dalam sejarah NU Cilacap dan Jawa Tengah. Sebagai pendiri PCNU Cilacap dan pengasuh Pesantren Miftahul Huda, kiprahnya tercatat dalam arsip muktamar NU, kesaksian tokoh nasional, hingga lembaga pendidikan yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Warisan intelektual dan perjuangannya menjadi inspirasi bagi generasi muda NU untuk terus melanjutkan cita-cita beliau: membangun masyarakat melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan organisasi keislaman.

Sumber : nu.or.id

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Artikel Lainnya