Web Design

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

Logo Design

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

Web Development

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

White Labeling

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

VIEW ALL SERVICES 

Komentar

0

Discussion – 

0

Ketua PW Ansor Sumsel Membuka Langsung DTD ke-5 PC GP Ansor PALI dan Menegaskan Kaderisasi Harga Mati

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Sahabat H. Muhammad Erwinsyah, S.Pd.I, secara langsung membuka kegiatan Diklat Terpadu Dasar (DTD) ke-5 Banser PC GP Ansor Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Melalui agenda tersebut, GP Ansor PALI menegaskan komitmen kuat dalam memperkuat kaderisasi sejak awal tahun 2026.

Kegiatan DTD ini tidak hanya menjadi agenda rutin organisasi. Sebaliknya, forum ini berperan sebagai fondasi utama dalam mencetak kader Banser yang militan, disiplin, dan siap berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama (NU) serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

DTD Banser PALI Menjadi Kaderisasi Perdana di Sumsel Tahun 2026

Dalam sambutannya, Erwinsyah secara terbuka memberikan apresiasi kepada PC GP Ansor Kabupaten PALI. Menurutnya, Ansor Banser PALI berhasil menjadi pelopor kaderisasi di wilayah Sumatera Selatan pada tahun 2026.

Selain itu, ia menilai langkah tersebut sebagai bukti nyata keseriusan pengurus cabang dalam menjaga kesinambungan organisasi. Oleh karena itu, ia mendorong cabang lain di Sumsel untuk mengikuti langkah serupa.

“Ansor Banser PALI menjadi yang pertama mengawali kaderisasi di Sumsel pada tahun 2026. Langkah ini patut kita jadikan contoh bersama,” ujar Erwinsyah.

Kaderisasi Ansor Banser Merupakan Harga Mati

Lebih lanjut, Ketua PW Ansor Sumsel menegaskan bahwa kaderisasi merupakan harga mati dalam tubuh GP Ansor dan Banser. Tanpa kaderisasi yang berkelanjutan, organisasi akan kehilangan arah perjuangan dan kekuatan struktural.

Selain itu, Erwinsyah menjelaskan bahwa kaderisasi Ansor Banser tidak hanya membentuk kemampuan fisik. Proses tersebut juga membangun karakter, ideologi, dan spiritualitas kader agar siap mengabdi kepada bangsa dan agama.

“Ansor Banser berdiri untuk berkhidmat kepada NKRI dan Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu, kaderisasi tidak boleh berhenti,” tegasnya.

Menjadi Kader Ansor Banser Berarti Siap Berkhidmat Sepenuh Hati

Di hadapan peserta DTD, Erwinsyah juga menyampaikan pesan spiritual yang mendalam. Ia mengajak seluruh kader untuk meneladani perjuangan para ulama dan pendiri NU, khususnya KH. Hasyim Asy’ari.

Menurutnya, setiap kader Ansor Banser harus menjadikan khidmat sebagai orientasi utama. Dengan demikian, organisasi tetap berjalan di atas nilai keikhlasan dan pengabdian.

“Kita ingin diakui sebagai santri oleh Hadrotus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari dan didoakan agar wafat dalam keadaan husnul khatimah,” ungkapnya.

Disiplin Organisasi: Satu Komando dalam Barisan Ansor Banser

Selain menekankan kaderisasi, Erwinsyah juga mengingatkan pentingnya disiplin organisasi. Ia menegaskan bahwa Ansor Banser hanya akan kuat jika seluruh kader memegang prinsip satu komando dan satu garis perintah.

Namun demikian, ia juga mengingatkan agar setiap kader menjaga marwah organisasi dan tidak memanfaatkan Ansor untuk kepentingan pribadi.

“Jika tidak siap mengikuti komando dan justru mencederai nama baik Ansor, maka lebih baik keluar dari barisan,” ujarnya dengan tegas.

DTD Banser Menjadi Fondasi Awal Proses Kaderisasi

Sementara itu, Sahabat Arismin, S.Pd, selaku pengurus PC GP Ansor PALI, menjelaskan bahwa Diklat Terpadu Dasar menjadi pintu awal kaderisasi Banser secara formal.

Melalui DTD, PC GP Ansor PALI menanamkan nilai dasar perjuangan Ansor Banser kepada peserta sejak awal. Dengan cara ini, kader memahami arah perjuangan organisasi secara utuh.

“DTD merupakan proses awal kaderisasi Banser untuk membentuk pemuda yang militan, toleran, dan cinta tanah air,” jelas Arismin.

Membentuk Kader Militan Berlandaskan Aswaja an-Nahdliyah

Lebih lanjut, Arismin menegaskan bahwa Banser menyiapkan kader sebagai penjaga ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah. Selain itu, Banser juga berperan sebagai benteng ideologi bangsa.

Melalui kurikulum DTD, peserta mendapatkan pembekalan keislaman, ke-NU-an, dan kebangsaan secara seimbang. Dengan demikian, kader mampu bergerak secara moderat dan berwawasan luas.

“Kami mencetak kader yang kuat secara mental, intelektual, dan spiritual agar mampu menggerakkan organisasi dan menjaga keutuhan bangsa,” tambahnya.

Banser sebagai Ruang Khidmat, Bukan Tempat Mencari Materi

Arismin juga menegaskan bahwa Ansor Banser tidak menyediakan gaji maupun fasilitas materi. Namun demikian, organisasi ini membuka ruang luas bagi kader untuk berkhidmat secara tulus.

Selain itu, ia menekankan bahwa khidmat kepada NKRI, ulama, dan Nahdlatul Ulama harus menjadi orientasi utama setiap kader Banser.

“Banser adalah ruang pengabdian. Di sinilah kita berkhidmat kepada negara, ulama, dan Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Bergandengan Tangan Mewujudkan Cita-cita Pendiri

Selanjutnya, Arismin mengajak seluruh kader Banser PALI untuk terus bergandengan tangan. Menurutnya, kekuatan organisasi terletak pada persatuan dan kebersamaan.

Oleh karena itu, ia meminta kader menjaga kekompakan serta terus mensyiarkan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah di tengah masyarakat.

Banser Sebagai Barisan Perjuangan Bersama

Sebagai penutup, Arismin menjelaskan makna Banser sebagai barisan, bukan sekadar pasukan. Istilah barisan menunjukkan bahwa seluruh kader bergerak bersama dalam satu visi perjuangan.

Dengan demikian, setiap kader Banser harus siap saling menguatkan dan berjalan seiring dalam mengawal ulama, NU, dan NKRI.

“Kita disebut barisan karena kita berjuang bersama, bukan sendiri-sendiri,” pungkasnya.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

  • Apa itu DTD Banser?
    DTD Banser merupakan pendidikan dan pelatihan dasar sebagai tahap awal kaderisasi resmi Banser di bawah GP Ansor.

  • Mengapa kaderisasi Ansor Banser sangat penting?
    Karena kaderisasi menjaga regenerasi, memperkuat ideologi Aswaja, dan memastikan kesinambungan perjuangan organisasi.

  • Apa tujuan utama DTD Banser?
    DTD bertujuan membentuk kader yang disiplin, militan, toleran, cinta tanah air, dan siap berkhidmat kepada NU serta NKRI.

  • Apakah Banser memberikan gaji kepada anggotanya?
    Tidak. Banser menekankan pengabdian dan keikhlasan, bukan orientasi materi.

  • Nilai apa yang paling ditekankan dalam DTD Banser?
    Keikhlasan, disiplin, loyalitas organisasi, Aswaja an-Nahdliyah, dan nasionalisme.

Ringkasan Akhir

Pelaksanaan DTD ke-5 Banser PC GP Ansor PALI yang dibuka langsung oleh Ketua PW Ansor Sumsel menegaskan bahwa kaderisasi menjadi pilar utama perjuangan Ansor Banser. Melalui disiplin organisasi, semangat khidmat, dan penguatan nilai Aswaja, Banser PALI siap melanjutkan estafet perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama demi menjaga keutuhan bangsa dan negara.

SUMBER:https://mattanews.co/ketua-pw-ansor-sumsel-buka-langsung-acara-dtd-ke-5-pc-gp-ansor-pali/

FOLLOW IG:https://www.instagram.com/pacgpansorkroya/

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Artikel Lainnya