Surabaya – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur (Kadis Kominfo Jatim), Sherlita Ratna Agustin, menegaskan pentingnya peran transformasi digital dalam memperkuat tata kelola organisasi Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu disampaikan saat dirinya menjadi pembicara dalam kegiatan Pertemuan Rutin XI Himpunan Da’iyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) Muslimat NU se-Jawa Timur, yang digelar di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada Sabtu (4/10/2025).
Dengan mengusung tema “Hidmat Bertransformasi Digital Menuju Organisasi Tangguh, Solid, dan Mandiri”, acara tersebut dihadiri oleh ratusan anggota Muslimat NU dari berbagai daerah di Jawa Timur. Sherlita hadir dengan paparan berjudul “Transformasi Digital Sistem Informasi Manajemen Muslimat” yang menyoroti pentingnya inovasi teknologi dalam tata kelola organisasi modern.
Pentingnya Digitalisasi dalam Tata Kelola Organisasi Muslimat NU
Dalam paparannya, Sherlita menekankan bahwa transformasi digital menjadi langkah strategis untuk menciptakan organisasi Muslimat NU yang inklusif, transparan, dan berdaya saing tinggi.
“Transformasi digital Muslimat NU merupakan kunci dalam membangun ekosistem organisasi yang modern dan adaptif. Melalui sistem informasi manajemen yang terintegrasi, kita dapat mengelola program, anggota, dan kegiatan secara efisien serta mendukung pemberdayaan di seluruh tingkatan,” ujar Sherlita.
Sherlita menjelaskan bahwa penerapan teknologi informasi tidak hanya membantu efisiensi administrasi, tetapi juga memperkuat kolaborasi antarwilayah dan meningkatkan akses terhadap berbagai layanan berbasis digital.
Sistem informasi manajemen yang terintegrasi, lanjutnya, akan menjadi tulang punggung bagi Muslimat NU dalam menghadapi tantangan era digital, sekaligus memastikan keberlanjutan program di tingkat pusat hingga ranting.
Penetrasi Internet dan Peluang Digitalisasi di Jawa Timur
Sherlita memaparkan data terbaru bahwa penetrasi internet di Indonesia tahun 2025 telah mencapai 80,66 persen, atau sekitar 229 juta jiwa dari total penduduk. Di Jawa Timur, angka tersebut bahkan lebih tinggi, yakni 82,19 persen.
“Mayoritas pengguna internet adalah generasi milenial, dan hampir setengahnya merupakan perempuan. Ini menjadi peluang besar bagi Muslimat NU untuk mengambil peran aktif dalam ruang digital,” kata Sherlita.
Selain itu, Indeks Literasi Digital Jawa Timur tercatat di angka 3,75, lebih tinggi dari rata-rata nasional, sedangkan Indeks Masyarakat Digital berada di 3,62 dengan kategori Sangat Baik. Capaian ini menunjukkan kesiapan masyarakat Jawa Timur dalam mengadopsi teknologi, termasuk organisasi keagamaan seperti Muslimat NU.
Peluang Transformasi Digital bagi Muslimat NU
Menurut Sherlita, kondisi ini menjadi momentum emas bagi Muslimat NU untuk melakukan lompatan digital dalam tata kelola organisasi, manajemen data, hingga pemberdayaan anggota.
Transformasi digital diyakini dapat membuka akses yang lebih luas bagi Muslimat NU dalam hal:
- Pengelolaan data anggota dan program secara terpusat
- Koordinasi lintas tingkatan organisasi (pusat, wilayah, cabang, ranting)
- Transparansi bagi donatur, mitra, dan pemerintah
- Efisiensi pelaporan dan monitoring kegiatan
- Peningkatan partisipasi anggota melalui platform digital
Sherlita menambahkan bahwa ke depan, digitalisasi juga dapat menjadi sarana pemberdayaan ekonomi dan sosial perempuan NU melalui pelatihan, e-commerce berbasis komunitas, dan jejaring kolaboratif antardaerah.
Quick Wins Digitalisasi Muslimat NU
Dalam kesempatan tersebut, Sherlita memaparkan sejumlah inisiatif cepat (Quick Wins) yang telah mulai diimplementasikan oleh Muslimat NU untuk memperkuat transformasi digital, di antaranya:
- Pendaftaran anggota secara online dengan kartu virtual
- Dashboard keanggotaan dan kegiatan per wilayah
- Modul pelatihan online dengan sertifikat digital
- Migrasi laporan rutin ke sistem digital
- Pelatihan dasar admin digital di tingkat PW dan PC
Program-program ini, kata Sherlita, menjadi pondasi awal bagi Muslimat NU dalam memperkuat tata kelola berbasis data dan mengurangi ketergantungan pada sistem manual.
“Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Muslimat NU sudah berada di jalur yang tepat dalam mengadopsi teknologi untuk kemajuan organisasi,” tegasnya.
Tantangan dan Harapan di Era Digital
Meskipun perkembangan digital membawa banyak peluang, Sherlita juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, seperti keamanan data, literasi digital anggota, dan kesenjangan akses teknologi di daerah.
Oleh karena itu, Kominfo Jatim siap untuk mendukung Muslimat NU melalui program pendampingan literasi digital dan pelatihan transformasi teknologi informasi.
“Kami di Kominfo Jatim berkomitmen mendampingi organisasi sosial dan keagamaan agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, aman, dan beretika,” ujarnya.
Sherlita menegaskan bahwa dengan penguasaan teknologi digital, Muslimat NU dapat memperluas jangkauan dakwah, mempercepat layanan sosial, dan meningkatkan kemandirian ekonomi anggota.
Digitalisasi untuk Pemberdayaan dan Kemandirian Perempuan NU
Transformasi digital yang dilakukan Muslimat NU tidak hanya ditujukan untuk memperkuat administrasi organisasi, tetapi juga untuk mendorong pemberdayaan perempuan NU di bidang ekonomi, pendidikan, dan sosial.
Dengan akses teknologi yang lebih luas, Muslimat NU diharapkan mampu mengembangkan berbagai inisiatif produktif, seperti pelatihan wirausaha digital, pemasaran produk lokal melalui platform daring, hingga literasi finansial berbasis komunitas.
Sherlita menilai, digitalisasi dapat menjadi jembatan menuju kemandirian organisasi dan ekonomi perempuan Muslimat NU.
“Dengan digitalisasi, Muslimat NU tidak hanya mempercepat pelayanan organisasi, tetapi juga membuka jalan bagi pemberdayaan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Kesimpulan
Transformasi digital bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan penting bagi organisasi keagamaan di era modern. Melalui langkah nyata seperti yang dilakukan Muslimat NU, digitalisasi dapat memperkuat tata kelola, memperluas jaringan kolaborasi, serta meningkatkan kesejahteraan anggota.
Kadis Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Agustin, menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan organisasi sosial seperti Muslimat NU menjadi kunci dalam mewujudkan ekosistem digital yang inklusif, aman, dan berdaya guna, sejalan dengan visi Jawa Timur sebagai provinsi digital unggulan di Indonesia.
Sumber: kominfo.jatimprov.go.id






0 Komentar