Web Design

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

Logo Design

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

Web Development

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

White Labeling

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

VIEW ALL SERVICES 

Komentar

0

Discussion – 

0

Peduli Lingkungan, GP Ansor Paciran Lamongan Perkenalkan Program Bank Sampah Ansor

Persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan serius di banyak daerah, termasuk wilayah pesisir dan kawasan industri. Menumpuknya sampah rumah tangga, minimnya pemilahan, hingga rendahnya kesadaran pengelolaan limbah sering kali berdampak pada lingkungan, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat. Di tengah isu tersebut, gagasan segar muncul dari kalangan pemuda di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

Berangkat dari diskusi internal yang membahas persoalan lingkungan, PAC GP Ansor Paciran resmi memperkenalkan Program Bank Sampah Ansor (BSA). Program ini diluncurkan bertepatan dengan pelantikan pengurus PAC GP Ansor Paciran untuk periode 2025–2028. Tidak hanya berorientasi pada kebersihan, BSA juga dirancang menjadi strategi pemberdayaan ekonomi organisasi melalui pengelolaan sampah yang tertib dan bernilai.

Bank Sampah Ansor Jadi Solusi Lingkungan Sekaligus Penggerak Organisasi

Program Bank Sampah Ansor hadir dengan dua tujuan besar: mengurangi persoalan sampah di tingkat masyarakat serta memperkuat kemandirian organisasi. Ketua PAC GP Ansor Paciran, Habib Nawawi, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah yang benar bukan hanya membantu menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi juga dapat menghasilkan nilai ekonomi yang menopang kegiatan organisasi.

Dari Sampah Menjadi Nilai, Menguatkan Kas dan Aktivitas Ranting

Habib Nawawi menyebutkan, PAC GP Ansor Paciran memiliki kekuatan jaringan yang luas, yaitu 21 ranting yang tersebar di 17 kelurahan/desa. Potensi ini dinilai sangat strategis untuk menggerakkan kebiasaan baru di masyarakat: memilah sampah sejak dari rumah, menyalurkan sampah bernilai ke bank sampah, lalu mengelolanya secara terukur.

Konsep bank sampah sendiri memungkinkan sampah anorganik—seperti botol plastik, kardus, kaleng, dan kertas—dikumpulkan dan dicatat layaknya “tabungan”. Sampah tersebut kemudian disalurkan ke pihak pengelola atau pengepul untuk didaur ulang. Hasilnya dapat menjadi pemasukan bagi sistem bank sampah, sekaligus membuka peluang terciptanya kas organisasi.

Melalui mekanisme ini, BSA diharapkan tidak hanya menjadi program seremonial, tetapi benar-benar menjadi gerakan sosial yang membentuk budaya baru: mengurangi, memilah, dan memanfaatkan sampah.

Sudah Berjalan di 6 Ranting, Disiapkan Struktur Eksekutor Lapangan

Salah satu hal yang membuat BSA menarik adalah kesiapan eksekusi di lapangan. Program ini tidak berhenti pada wacana, karena sudah mulai berjalan pada sejumlah ranting.

Ada Tim Inti di Tingkat PAC dan Personel Ranting

Menurut keterangan pengurus, program BSA sudah aktif di 6 ranting. Untuk memastikan roda program berjalan, disusun struktur kerja yang cukup rapi. Terdapat sekitar 10 personel inti di tingkat PAC yang berperan sebagai koordinator, pengarah, sekaligus penguat sistem. Sementara di setiap ranting, ada sekitar 5 personel yang bertugas sebagai eksekutor lapangan.

Tim ranting inilah yang nantinya berhadapan langsung dengan warga: melakukan sosialisasi, mengatur jadwal pengumpulan, memastikan pemilahan, hingga pencatatan dan penyaluran sampah. Dengan pola seperti ini, organisasi memiliki jalur koordinasi yang jelas, sehingga program tidak mudah berhenti di tengah jalan.

Habib Nawawi juga menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi antarstruktur yang baru dilantik. Ia berharap pengurus tetap solid dan mampu membangun sinergi, bukan hanya untuk kepentingan organisasi, tetapi juga untuk kemajuan wilayah Paciran secara lebih luas.

PCNU Lamongan Dorong Peran Pemuda Jaga Ekologi Kawasan Pantura

Dukungan terhadap program Bank Sampah Ansor juga datang dari struktur NU di tingkat kabupaten. Ketua PCNU Lamongan, Gus Syahrul Munir, menilai program ini sangat relevan dengan kondisi geografis Paciran.

Paciran di Kawasan Industri, Kebersihan Jadi Tanggung Jawab Bersama

Gus Syahrul menyoroti posisi Paciran yang berada di jalur Pantura dan dekat dengan kawasan industri. Aktivitas industri, mobilitas tinggi, serta perkembangan kawasan dapat meningkatkan produksi sampah, baik dari rumah tangga maupun aktivitas ekonomi.

Dalam konteks ini, pemuda memiliki peran penting sebagai motor perubahan. GP Ansor sebagai salah satu badan otonom NU dinilai berada di posisi strategis untuk memimpin gerakan kebersihan dan tata kelola lingkungan. Pesannya jelas: persoalan sampah tidak cukup disikapi dengan keluhan, melainkan harus dijawab dengan aksi kolektif yang berkelanjutan.

Semangat Inovasi: Melanjutkan yang Baik, Memperbaiki dengan Cara Baru

Dalam arahannya, Gus Syahrul juga menekankan pentingnya prinsip Al-Akhdzu bil Jadid Al-Ashlah—meneruskan hal-hal baik yang sudah berjalan, lalu memperbaikinya dengan inovasi baru yang lebih bermanfaat untuk masyarakat.

Bank Sampah sebagai Gerakan, Bukan Sekadar Program

Prinsip tersebut sejalan dengan semangat BSA. Bank sampah bukan sekadar agenda organisasi, tetapi bisa menjadi gerakan yang memberi dampak nyata: lingkungan lebih bersih, kebiasaan warga berubah, dan ekonomi komunitas ikut bergerak.

Jika dikelola konsisten, bank sampah dapat berkembang menjadi ekosistem yang lebih luas—mulai dari pelatihan pemilahan, pembuatan produk daur ulang, hingga kerja sama dengan pihak sekolah, industri, dan pemerintah desa. Program seperti ini berpotensi menjadi contoh praktik baik bagi wilayah lain di Lamongan.

Harapan ke Depan: Paciran Lebih Bersih, Organisasi Lebih Mandiri

Dengan peluncuran Bank Sampah Ansor, GP Ansor Paciran menunjukkan bahwa pemuda bisa mengambil peran nyata dalam isu lingkungan. Gerakan ini diharapkan mampu menjawab persoalan sampah di tingkat lokal, sekaligus memperkuat kemandirian organisasi melalui pengelolaan sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Jika sinergi antar ranting dan dukungan masyarakat terus terjaga, BSA berpeluang menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang efektif—membawa manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi Paciran.

 

Sumber: jatimnow.com

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Artikel Lainnya