gpansorbanserkroya@gmail.com

Web Design

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

Logo Design

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

Web Development

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

White Labeling

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

VIEW ALL SERVICES 

Komentar

0

Discussion – 

0

Bentrok di Pengajian Habib Rizieq: PWI LS Vs FPI, GP Ansor Serukan Damai dan Evaluasi

Kericuhan mewarnai acara pengajian Habib Rizieq Shihab di Pemalang, Jawa Tengah. Bentrokan pecah antara dua ormas, yakni Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS) dan Front Persaudaraan Islam (FPI), hingga menyebabkan korban luka. GP Ansor turut bersuara, menyesalkan insiden tersebut dan menyerukan penyelesaian damai serta evaluasi menyeluruh.

Kronologi Bentrokan di Tengah Pengajian

Peristiwa terjadi pada Rabu malam, 23 Juli 2025, saat Muhammad Rizieq Shihab hadir sebagai penceramah dalam pengajian memperingati bulan Muharam di Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah. Saat rombongan HRS tiba di lokasi, muncul penolakan dari massa PWI LS yang sebelumnya telah mengajukan keberatan atas kehadiran tokoh tersebut.

Menurut keterangan kuasa hukum Rizieq, Azis Yanuar, bentrokan bermula ketika aparat kepolisian menyarankan rombongan untuk masuk lewat jalur belakang panggung. Namun jalur itu telah dikuasai massa PWI LS. Ketegangan pun meningkat dan akhirnya bentrokan pecah antara massa ormas yang hadir di lokasi.

Jumlah Korban dan Respons Polisi

Bentrokan yang berlangsung cepat namun intens ini menyebabkan sedikitnya 15 orang terluka, termasuk anggota kepolisian, simpatisan FPI, dan pihak dari PWI LS. Aparat kepolisian langsung bertindak dengan melerai bentrok dan mengamankan lokasi.

Kapolres Pemalang menyebut pihaknya sedang memburu aktor intelektual yang diduga menjadi provokator dalam insiden ini. Penyelidikan menyeluruh tengah dilakukan untuk memetakan jaringan dan motif di balik bentrokan tersebut.

GP Ansor: Kecam Kekerasan, Dorong Dialog Ormas Islam

Gerakan Pemuda (GP) Ansor melalui Kepala Satkornas Banser, Muhammad Syafiq Syauqi, menyampaikan sikap resminya terkait bentrokan ini. Ia menegaskan bahwa kekerasan, terlebih yang dilakukan atas nama agama atau organisasi, tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apapun.

“Kami mengutuk keras setiap bentuk kekerasan dan penggunaan senjata tajam. Dalam iklim demokrasi, perbedaan pendapat dapat terjadi kapan saja, namun semua pihak wajib menahan diri dan menjaga suasana damai,” tegas Syauqi, Kamis (24/7).

GP Ansor juga menyampaikan dukungan terhadap langkah hukum yang tegas dan transparan. Syafiq menekankan pentingnya peran tokoh agama dan masyarakat sebagai penyejuk suasana serta penjaga ukhuwah di tengah perbedaan pandangan antarormas Islam.

PWI LS: Tolak Kehadiran HRS, Klaim Aksi Damai

Koordinator Komunikasi Antarwilayah DPP PWI LS, Andi Rustono, menyatakan bahwa pihaknya telah memberi peringatan sebelumnya terkait rencana kehadiran HRS dalam pengajian tersebut. Bahkan, menurutnya, sudah ada kesepakatan informal dengan Kesbangpol, TNI, dan Polri bahwa HRS tidak akan ceramah.

Namun kesepakatan tersebut gagal ditegakkan. Andi menegaskan bahwa massa PWI LS hadir untuk menyuarakan aspirasi secara damai, tanpa membawa senjata tajam.

“Kalau pun ada kayu, itu hanya alat bantu untuk berjaga diri. Justru serangan awal datang dari massa berbaju putih yang melempar batu,” jelasnya.

Ia juga menilai bahwa ceramah-ceramah HRS selama ini mengandung provokasi dan ujaran kebencian yang dapat memecah belah masyarakat.

FPI: Ceramah Tetap Berjalan, Bentrokan Bukan dari Pihak Kami

Sementara itu, kubu HRS menyatakan bahwa acara tetap berjalan dengan aman. Menurut Azis Yanuar, setelah sempat terjadi adu argumen dengan aparat, HRS akhirnya diperbolehkan masuk lewat jalur depan panggung. Ceramah pun berjalan lancar hingga selesai, meski di belakang panggung terjadi bentrokan antara panitia, warga, dan massa PWI LS.

FPI menilai tindakan PWI LS sebagai bentuk intoleransi dan provokasi terhadap kegiatan keagamaan yang seharusnya damai.

Ajakan Bersama untuk Jaga Kerukunan dan Evaluasi Izin Acara

GP Ansor menyerukan agar peristiwa ini dijadikan momentum introspeksi. Evaluasi terhadap penyelenggaraan acara keagamaan dengan massa besar sangat diperlukan, terutama jika tokoh yang diundang berpotensi memicu gesekan.

“Kami siap menjadi fasilitator dialog antarormas untuk menghindari disinformasi dan kekerasan berulang,” ujar Syauqi.

Mereka juga mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya para kiai, ustaz, dan pengurus pesantren, untuk berperan aktif mendinginkan suasana dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Penutup: Menghindari Polarisasi dan Mengutamakan Persatuan

Peristiwa di Pemalang adalah peringatan bagi semua pihak tentang rapuhnya stabilitas sosial jika tidak dikelola dengan bijak. Ketegangan antarormas dapat mengarah pada konflik horizontal yang membahayakan integrasi nasional. Perlu ada langkah konkret untuk memperkuat literasi keberagaman dan pengawasan terhadap kegiatan publik yang melibatkan tokoh-tokoh kontroversial.

Sumber: jpnn.com

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Artikel Lainnya