Sekilas: NU dan Jejak Pahlawan dalam Sejarah Bangsa
NU sejak awal abad ke-20 berperan sebagai pusat pendidikan pesantren, organisasi sosial-religius, dan pergerakan kemerdekaan. Banyak kiai NU yang tidak hanya berdakwah tetapi juga memobilisasi rakyat, memimpin laskar, dan terlibat dalam perumusan dasar negara. Gelar Pahlawan Nasional yang diberikan pada tokoh NU mencerminkan pengakuan negara atas jasa-jasa mereka dalam mempertahankan kemerdekaan, membangun bangsa, dan mengokohkan tradisi pesantren.
16 Tokoh NU yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
1. Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari
Pendiri dan pengasuh pertama Pesantren Tebuireng, Jombang, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari merupakan tokoh utama pendiri NU sekaligus Rais Akbar pertama dan satu-satunya dalam sejarah organisasi ini.
Beliau dikenal karena perjuangannya memperkuat pendidikan pesantren dan melawan penjajahan melalui Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang mewajibkan umat Islam berperang mempertahankan kemerdekaan.
Gelar Pahlawan Nasional dianugerahkan kepada beliau melalui SK Presiden RI No. 294/1964 pada 17 November 1964.
2. KH Zainul Arifin Pohan
Tokoh NU asal Barus, Sumatra Utara ini dikenal sebagai panglima laskar Hizbullah serta pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dan Ketua DPR-GR.
Keturunan raja-raja Barus ini aktif dalam dakwah NU sejak muda dan memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan.
Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 4 Maret 1963 melalui SK Presiden RI No. 35/1963.
3. KH Abdul Wahid Hasyim
Putra dari KH Hasyim Asy’ari ini dikenal sebagai tokoh muda, cerdas, dan visioner. Ia merupakan anggota BPUPKI dan PPKI, serta ikut menyusun dasar negara dalam Panitia Sembilan yang merumuskan Pancasila.
Sebagai Menteri Agama, KH Wahid Hasyim mereformasi pendidikan pesantren dengan menggabungkan ilmu agama dan pengetahuan umum.
Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 206/1964.
4. KH Zainal Musthafa
Tokoh NU asal Tasikmalaya, Jawa Barat ini dikenal karena perlawanan bersenjata terhadap penjajahan Jepang.
Bersama para santrinya, KH Zainal Musthafa memimpin pertempuran melawan penjajah dan gugur dalam perjuangan.
Beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 064/1972.
5. KH Idham Chalid
Kiai kharismatik asal Kalimantan Selatan ini pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Ketua MPR, dan Ketua DPR RI.
Ia juga menjabat Ketua Umum PBNU selama hampir tiga dekade (1956–1984).
Atas jasa-jasanya, KH Idham Chalid ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 7 November 2011. Sosoknya juga diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp5.000 sejak tahun 2016.
6. KH Abdul Wahab Chasbullah
Pendiri Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar, KH Abdul Wahab Chasbullah dikenal sebagai penggerak kebangkitan nasional di kalangan santri.
Ia merupakan Rais ‘Aam PBNU yang menggantikan KH Hasyim Asy’ari.
Kiai Wahab dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2014 melalui SK Presiden RI No. 108/2014.
7. KH As’ad Syamsul Arifin
Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, KH As’ad Syamsul Arifin adalah motor perjuangan rakyat di Situbondo dan Jember pada masa revolusi.
Beliau juga tokoh penting yang menjelaskan keselarasan Pancasila dengan nilai-nilai Islam.
Atas jasanya, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 9 November 2016 melalui SK Presiden RI No. 91/2016.
8. KH Syam’un
Tokoh NU asal Serang, Banten, KH Syam’un merupakan pendiri dan komandan Batalion PETA serta pernah menjabat Komandan Divisi I TKR (TNI).
Beliau wafat dalam perjuangan pada 1949 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2018.
9. KH Masjkur
Anggota BPUPKI dan perumus Pancasila, KH Masjkur juga dikenal sebagai pendiri organisasi Pembela Tanah Air (PETA).
Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2019.
10. Andi Mappanyukki
Seorang Raja Bone dan tokoh Bugis yang membantu membentuk NU di Sulawesi Selatan.
Ia ikut berjuang melawan penjajahan Belanda dan Jepang antara 1945–1949.
Gelar Pahlawan Nasional diberikan melalui SK Presiden RI No. 089/2004.
11. Andi Djemma
Sebagai Raja Luwu, Andi Djemma berperan dalam pendirian NU Sulawesi Selatan dan perjuangan kemerdekaan melawan Belanda pada 1946–1948.
Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No. 073/2002.
12. Usmar Ismail
Sutradara, wartawan, dan sastrawan asal Minangkabau ini dikenal sebagai Bapak Film Indonesia.
Ia mendirikan Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia) di bawah NU dan pernah menjabat Ketua I PBNU (1964–1970).
Gelar Pahlawan Nasional diberikan melalui SK Presiden RI No. 109/TK/2021.
13. KH Abdul Chalim Leuwimunding
Ulama pejuang asal Majalengka, Jawa Barat, KH Abdul Chalim aktif mengorganisasi Taswirul Afkar, Syubbanul Wathan, dan Komite Hijaz, serta menjadi salah satu pendiri NU.
Beliau juga memimpin kontingen jihad di Jawa Barat saat Resolusi Jihad 1945.
Gelar Pahlawan Nasional diberikan pada 10 November 2023.
14. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Presiden ke-4 Republik Indonesia ini adalah Ketua Umum PBNU (1984–1999) dan dikenal sebagai tokoh pluralisme serta pejuang demokrasi.
Gus Dur dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 atas jasanya dalam memperjuangkan kemanusiaan dan toleransi antarumat beragama.
15. Syaikhona Muhammad Kholil
Lahir di Bangkalan, Madura pada 27 Januari 1820, Syaikhona Kholil adalah guru para kiai besar NU, termasuk KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah.
Beliau dikenal sebagai mahaguru ulama Nusantara dan sosok yang memberikan restu spiritual pendirian NU.
Gelar Pahlawan Nasional diberikan pada 10 November 2025.
16. Sultan Muhammad Salahuddin
Pemimpin ke-14 Kerajaan Bima (1915–1951) ini dikenal mendukung penyebaran NU di wilayahnya dan menjadi ketua cabang pertama NU Bima pada 1936.
Namanya diabadikan sebagai nama bandara di Kabupaten Bima.
Sultan Muhammad Salahuddin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2025.
Mengapa Penghargaan Ini Penting?
Penganugerahan Pahlawan Nasional kepada tokoh-tokoh NU tidak semata penghormatan simbolis. Ada beberapa makna pentingnya:
- Pengakuan sejarah: Mengangkat kontribusi pesantren, ulama, dan organisasi keagamaan dalam perjuangan nasional.
- Pendidikan publik: Mendorong generasi muda memahami peran kiai-kiai sebagai agen perubahan sosial dan pendidikan.
- Keberagaman narasi bangsa: Menegaskan bahwa kemerdekaan dan pembangunan bangsa dicapai melalui banyak aktor — termasuk tokoh keagamaan dan kerajaan lokal.
- Penguatan identitas lokal–nasional: Tokoh seperti Andi Mappanyukki dan Sultan Muhammad Salahuddin menunjukkan peran kerajaan lokal dalam proses nasionalisasi.
Warisan yang Berkelanjutan: Dari Pesantren untuk Bangsa
Banyak tokoh NU yang dianugerahi pahlawan nasional bukan hanya pejuang bersenjata, tetapi pendidik—mereka mendirikan pesantren, memasukkan pendidikan umum ke kurikulum pesantren, serta membentuk lembaga-lembaga ekonomi dan sosial. Nama-nama seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahid Hasyim, dan KH Abdul Wahab Chasbullah mengingatkan kita bahwa pelayanan melalui pendidikan juga adalah bentuk pengabdian yang layak dihormati.
Penutup
Penetapan tambahan tokoh NU sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 memperkaya mosaik sejarah kepahlawanan Indonesia. Selain merayakan jasa masa lalu, langkah ini juga membuka ruang diskusi publik tentang bagaimana nilai-nilai yang diwariskan — seperti toleransi, pendidikan, dan pelayanan rakyat — terus diaktualisasikan untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.
Sumber: nu.or.id






0 Komentar