gpansorbanserkroya@gmail.com

Web Design

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

Logo Design

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

Web Development

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

White Labeling

Your content goes here. Edit or remove this text inline.

VIEW ALL SERVICES 

Komentar

0

Discussion – 

0

PCNU Kota Semarang Ziarahi Makam Para Syuhada dan Pendiri NU, Awali Rangkaian Hari Santri 2025

SEMARANG — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang menggelar ziarah dan doa bersama ke makam para syuhada serta tokoh pendiri Nahdlatul Ulama yang dimakamkan di Kota Semarang. Kegiatan yang berlangsung di kompleks Makam Sendangguwo, Tembalang, itu menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 yang disusun oleh PCNU setempat.

Ziarah dipimpin langsung oleh Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang, KH Hanief Ismail Lc, dan diikuti oleh pengurus PCNU, pimpinan badan otonom, serta tokoh kiai dari berbagai unsur. Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang, Dr. KH Anasom, menyatakan bahwa agenda ini dimaksudkan untuk menghormati jasa para ulama sekaligus menanamkan keteladanan perjuangan mereka kepada generasi muda santri.

Ziarah di Makam KH Abdullah Sajad: Titik Awal Penghormatan

Acara ziarah terpusat di makam KH Abdullah Sajad di Sendangguwo, yang dikenal sebagai salah satu murid Kiai Sholeh Darat dan pejuang dakwah di wilayah timur Kota Semarang. Dr. KH Anasom menuturkan bahwa almarhum adalah tokoh kunci dalam menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dan memperkuat jaringan Nahdlatul Ulama di daerah tersebut.

“Kiai Abdullah Sajad adalah pelopor yang gigih, meluruskan praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam di lingkungannya. Ziarah ini menjadi momentum agar para santri meneladani semangat, ketekunan, dan ketegaran para pendahulu,” kata Anasom saat menghadiri tahlil di makam tersebut.

Rais Mustafadl Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahli Thoriqoh al-Muktabarah an-Nahdliyyah (Jatman) NU, Drs. KH Dzikron Abdullah, hadir mewakili keluarga almarhum dan menyampaikan rasa haru serta terima kasih atas inisiatif PCNU Kota Semarang yang mengajak generasi muda untuk menghormati jasa leluhur mereka.

Makna Ziarah: Menghidupkan Tradisi dan Nilai Dakwah

Dalam sambutannya, Kiai Dzikron menyoroti tantangan yang dihadapi Kiai Abdullah Sajad ketika berdakwah di Sendangguwo. Pada masa itu, menurutnya, masyarakat masih terikat pada praktik ritual tradisional yang mengangkat sumber air (sendang) menjadi objek kultus. Melalui kerja dakwah yang sabar, Kiai Abdullah berhasil mengubah kebiasaan tersebut sehingga kehidupan beragama masyarakat menjadi lebih sesuai ajaran Islam.

“Kita meneruskan perjuangan para kiai: meluruskan aqidah dengan cara yang penuh hikmah. Ziarah tidak sekadar menziarahi makam, tetapi mengingat kembali amanah dakwah yang harus kita lanjutkan,” ujar Dzikron.

PCNU Kota Semarang merencanakan total 15 kegiatan untuk memeriahkan Hari Santri 2025. Ziarah ke makam para syuhada dan pendiri NU merupakan salah satu agenda penting yang dimaksudkan untuk memperkuat identitas keorganisasian dan menumbuhkan kecintaan santri terhadap sejarah Islam Nusantara.

Jaringan Ulama Semarang: Dari Sendangguwo ke Bukit Bergota

Dr. KH Anasom memaparkan bahwa para kiai di Semarang pada masa awal berdirinya NU saling membagi tugas; ada yang fokus membangun hubungan lintas kota—seperti dengan kiai di Surabaya—sedangkan lainnya berkonsentrasi mengembangkan dakwah di lingkungan lokal. Salah satu tokoh yang disebutkan adalah KH Ridwan Mujahid, yang kemudian tercatat sebagai salah satu pendiri dan pengurus PBNU angkatan pertama; makam beliau berada di komplek Bukit Bergota, Semarang.

Penelusuran jejak ulama di kota ini, kata Anasom, memperlihatkan betapa eratnya kerja kolektif antara para kiai dalam memperkuat tradisi keagamaan, pendidikan, dan kegiatan kemasyarakatan. Ziarah massal oleh PCNU menjadi cara untuk merekatkan kembali ingatan kolektif terhadap jasa-jasa tersebut.

Respons Keluarga dan Warga NU

Perwakilan keluarga, Drs. KH Dzikron Abdullah, menyampaikan kesan haru atas inisiatif yang diambil PCNU Kota Semarang. Ia menyampaikan terima kasih kepada para kiai, pengurus, dan santri yang menziarahi makam leluhurnya dan mendoakan para pendiri organisasi.

Warga nahdliyin dan peserta ziarah tampak khidmat saat pembacaan tahlil, doa bersama, dan penyebutan nama para pengurus NU yang telah wafat. Menurut panitia, daftar nama tersebut dibacakan satu per satu sebagai bentuk penghormatan sambil memperkokoh ikatan historis antar-generasi.

Ziarah sebagai Pendidikan Santri dan Penguatan Komunitas

PCNU Kota Semarang berharap kegiatan ziarah ini tidak berhenti pada ritual saja, melainkan menjadi pendidikan bagi santri agar menghayati nilai-nilai kepemimpinan, keteladanan, dan kerja sosial. Agenda Hari Santri yang menyusul diharapkan memperkaya pengalaman keagamaan dan intelektual para peserta, dari pengajian sampai kegiatan pengabdian masyarakat.

“Kami ingin agar para santri tidak hanya mengetahui nama-nama besar di masa lalu, tetapi juga memahami konteks perjuangan mereka dan mengambil pelajaran untuk diaplikasikan hari ini,” tutup Dr. KH Anasom.

Sumber: suaramerdeka.com

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Artikel Lainnya